FOTO PENUH PESAN, catatan ringan Grand Final DBL 2014

Setelah berlangsung selama setengah tahun ini, akhirnya Dari Balik Lensa, sebuah kompetisi fotografi jurnalistik yang diadakan oleh Media Indonesia  memasuki tahap akhir, Grand Final. Grand Final adalah gelaran terakhir dari rangkaian DBL 2014, yang mempertemukan para juara dari 5 kota tempat berlangsungnya workshop DBL selama ini (Bandung, Jakarta, Jogja, Makassar dan Pangkalan Bun), setiap kota diambil pemenang 1 dan 2 pada saat workshop dan lomba on the spot berlangsung. Dan, 2 pemenang via microsite (diambil 2 pemenang dari keseluruhan pemenang bulanan) DBL 2014.

Alhamdulillah, setelah memenangkan 2 bulan berturut-turut (Agustus dan September 2014) kompetisi via microsite, saya terpilih sebagai salah satu peserta Grand Final DBL 2014, 1 orang lagi yang terpilih melalui microsite berhalangan hadir karena tugas, jadilah saya sebagai satu-satunya peserta Grand Final tanpa workshop.

Grand Final DBL 2014 ini berlangsung dari tanggal 4-6 Desember 2014 lalu di Jakarta. Berlangsung di Kantor Pusat Media Group, para peserta sempat melakukan touring di Ruang Redaksi Media Group, stage beberapa acara populer MetroTV dan juga sempat bertemu “mata najwa”

Bertemu "mataNAJWA" di Media Group

Bertemu “mataNAJWA” di Media Group

Para Finalis Grand Final DBL 2014 berfoto bersama di set panggung Mata Najwa - Metro TV. (Set timer by Kenny Sie)

Para Finalis Grand Final DBL 2014 berfoto bersama di set panggung Mata Najwa – Metro TV. (Set timer by Kenny Sie)

 

Setelah itu, materi workshop yang cukup menarik dibawakan oleh jurnalis Media Indonesia, diantaranya Sumaryanto Bronto dan Hariyanto (Editor Foto Media Indonesia). Materi memotret HI dan Environmental Potrait menjadi materi yang sangat menarik.

Beberapa hal yang menjadi cuplikan dari materi tersebut berupa,

4 modal yang harus dimiliki oleh fotografer; (1) Kaya dengan memori Visual, (2) Sensitif terhadap situasi sekitar, (3) Melakukan Pravisualisasi sebelum memotret, (4) Mampu menaklukkan hambatan dan godaan.

Kemudian juga ada 4 hal penting dalam sebuah foto Human Interest menurut pemateri yang membuat sebuah foto menjadi maksimal, (1) Ekspresi Subjek, (2) Gestur, (3) Suasana, (4) POI.

Terakhir ada 4 tips jitu menurut Hariyanto dalam “ber-HI-an”, (1) Peka kemanusiaan, (2) Bangun Empati, (3) HI bukan monopoli orang susah, (4) Tampilkan apa adanya.

Keseluruhan materi yang sangat menarik yang terpapar dengan “fotogenik” dalam rangkaian Grand Final DBL 2014 ini menjadi modal awal para peserta untuk hunting esok harinya.

KEHIDUPAN METROPOLITAN

Jika pada tahap awal Workshop dan Microsite, gelaran DBL 2014 ini mengambil tema Historical Landmark, Tema Kehidupan Metropolitan menjadi tema utama Grand Final, mulai pukul 07.30 wib tanggal 6 Desember 2014, para peserta diberikan kesempatan hunting di seluruh wilayah Jakarta, drop point di Monas dan Kota Tua, sore hari foto pun langsung dikumpulkan dan dilakukan penjurian secara terbuka untuk memilih 15 foto terbaik, semua peserta berhak memberikan usulan. Terakhir, pemilihan 6 foto akan dilakukan dewan juri dan team dari Media Indonesia.

Foto 1 ; Dua Sahabat , Kota Tua - Jakarta

Foto 1 ; Dua Sahabat , Kota Tua – Jakarta

Foto pertama yang saya kumpulkan adalah “Dua Sahabat”, badut anak di Kota Tua tengah beristirahat disela aksi mereka dalam mencari nafkah, dalam suasana panas dan terik matahari, mereka harus tetap semangat untuk menyetor rutin sejumlah hasil kepada pemilik kostum badut. Penanda metropolitan ada di Cafe Batavia, kehidupan ada di istirahatnya mereka. Dua Sahabat ini hanya sampai di 15 besar DBL 2014, kalah jauh dengan foto anak badut lainnya yang menjadi juara 1 event DBL ini yang berasal dari Faqih (Pangkalan Bun).

 

Foto 2 : Papandi dan Monas , Monas - Jakarta

Foto 2 : Papandi dan Monas , Monas – Jakarta

Foto kedua yang saya kumpulkan berjudul “Papandi dan Monas”, ini foto favorit saya sebenarnya, visualnya sangat saya sukai, dengan beberapa bonus jika kita cermati. Papandi sendiri adalah warga Surabaya yang sudah 15 tahun menjadi supir Bajaj (sebagiannya menjadi BBG). Namun apa daya, para peserta dan juri “kebingungan” dengan banyak nya objek. Foto ini pun gugur diawal penjurian.

 

Foto 3 : Pekerja Kota , Monas - Jakarta

Foto 3 : Pekerja Kota , Monas – Jakarta

Foto ketiga saya judulkan “Pekerja Kota”, seorang pekerja Patung Arjuna Wiwaha di sekitar monas tengah melakukan pengelasan material. Beruntung saya menemukan pekerja yang aktif bekerja di sabtu pagi itu. Latar belakang Kota Jakarta menguatkan foto ini. Sebagian besar peserta setuju untuk memilih foto ini masuk 15 besar. Juri yang terdiri Hariyanto dan Ramdani memberi catatatan khusus yang mengurangi point foto ini, yaitu keputusan mem-BW-kan nya, dan belum kuatnya nilai edukasi yang tertanam dalam foto ini. Akhirya foto ini hanya sampai di posisi 4 (6 besar) gelaran DBL 2014 ini.

Sebuah foto jurnalistik yang baik, selain mampu memberikan pesan informasi, hiburan, opini dan tentu saja Edukasi, inilah elemen utama yang menjadi pegangan juri dalam memilih para juara 1 (Faqih – Pangkalan Bun), juara 2 (Hendro – Jogja)  dan Juara 3 (Kenny Sie – Bandung) seperti yang dapat dilihat di DARI BALIK LENSA .

Akhirnya, meski tak mendapatkan hasil yang optimal, gelaran DBL 2014 ini menjadi sebuah catatan dan pelajaran penting untuk berkarya lebih baik lagi kedepannya. Berkarya bukan hanya membuat foto indah, namun juga memiliki pesan edukasi bagi diri sendiri dan yang lainnya.

Selamat untuk para pemenang, sampai jumpa di DBL 2015.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s