PASAR MEUGANG

Banda Aceh adalah tanah kelahiran, sampai usia 17 tahun menikmati Ibukota Propinsi Aceh (dulu : Daerah Istimewa Aceh / Nanggroe Aceh Darussalam) dengan berbagai dinamikanya. Kota yang tak begitu besar bagi ukuran sebuah ibukota propinsi di Indonesia. Namun, dinamikanya sebagai pusat pemerintahan, dagang, dan pendidikan untuk Aceh sungguh menarik dirasakan. Banda Aceh begitu dinamis, bahkan dinamisasi sebuah kota tetap terus berlangsung dengan baik meski menjadi pembauran dari beragam masayarakat dari seluruh Aceh.

Seperti daerah lainnya di Aceh, Meugang pun berlangsung disini, tradisi inilah yang membuat saya yang kini 16 tahun telah hidup di rantau tetap menjadi sebuah daya tarik yang cukup besar. Banyak kekhasan dan suasana Aceh banget yang akan kita temui pada tradisi ini, apalagi ketika kita “berwisata” ke pasar meugang.

Menurut Acehpedia, Meskipun sulit menemukan suatu sumber ilmiah yang menjelaskan tentang siapa yang menjadi pelopor lahirnya tradisi ini, namun seperti dikisahkan oleh Amir Hamzah (2009) bahwa awal mulanya tradisi meugang ini dilakukan pada masa kerajaan Aceh di bawah raja agung Sultan Iskandar Muda. Darimana asal kata Meugang dan bagaimana sejarahnya? Nama asli dari Meugang tertulis dalam buku Qanun al-asyi adalah Mad Meugang. Artinya, Makmur Sekali Gang Itu (Makmu that gang nyan—red). Istilah itu muncul pada masa Sultan Iskandar Muda, para kepala kampung memajang daging dan memotongnya di gang-gang atau lorong pasar dan di padati banyak orang.

Masih dari Acehpedia, Meugang menjadi salah satu tradisi masyarakat Aceh dalam menyambut bulan puasa, dengan cara melaksanakan pemotongan hewan pada satu atau dua hari sebelum bulan puasa. Nyaris, pada hari meugang, menjadi “kewajiban” budaya bagi orang Aceh ada daging sapi/kerbau di rumahnya sebagai santapan utama pada hari permulaan bulan Ramadhan. Meugang dalam tradisi masyarakat Aceh adalah meyembelih beratus bahkan ribuan ribu ekor lembu, kambing atau karbau bahkan ayam dan bebek dikorbankan.

Image

Dalam tradisi masyarakat Aceh, Tradisi turun temurun tradisi ini dilakukan satu hari menjelang hari menyambut Ramadhan dan perayaan Idul Fitri serta Idul Adha, praktis terdapat tiga kali momentum meugang dalam setahun, yaitu meugang puasa, meugang uroe raya puasa (menjelang hari raya ‘Idul Fitri) dan meugang uroe raya haji (menjelang hari rayaIdul Adha). Khusus meugang uroe raya haji tidak sesakral meugang puasadan meugang uroe raya puasa. Sebab, keesokan harinya (selama empat hari berturut-turut) akan ada pemotongan hewan oleh orang-orang kaya untuk dibagikan kepada fakir miskin melalui kewajiban ibadah qurban.

Tradisi pemotongan hewan pada hari meugang sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu di Aceh. Di setiap penjuru daerah Aceh terlihat pemandangan penyembelihan hewan secara massal, termasuk di kantor-kantor pemerintah dan swasta. Seakan sudah menjadi kewajiban bagi orang tua untuk mempersiapkan uang agar dapat membeli daging untuk keluarga pada hari meugang. Biasanya mereka yang mencari nafkah diperantauan akan pulang kampung (mudik) untuk berkumpul bersama keluarga pada hari meugang.

Terlalu mainstream rasanya, ketika berada di Aceh, Banda Aceh khususnya, apalagi seperti saya yang baru berada di Aceh ketika mudik, 1-2 hari sebelum hari raya, berwisata ke bangunan-bangunan yang tidak dapat di pungkiri banyak yang menarik saat ini. Bangunan memori tsunami. Namun, saya lebih memilih berkunjung ke Pasar Meugang.

Pasar meugang yang menjadi tujuan “wisata” saya adalah Pasar Meugang di Ulee Kareng. Berjarak 3 km dari pusat Kota Banda Aceh, pasar ini tepat berada di Simpang Tujuh Ulee Kareng, berdampingan dengan Mesjid Ulee Kareng, dan persis berada di sisi-sisi jalan raya.

Memasuki pasar ini, seperti menjelajah sanubari rakyat Aceh. Wajah yang khas, tutur kata yang khas, dan suasana hiruk pikuk, berkumpul disini. Para pedagang dari rempah, ayam atau daging berjibaku dengan lapak-lapak mereka, merebut hati pembeli yang memang mengkhususkan diri untuk memborong daging yang akan dimasak untuk meugang bersama keluarga.

Pasar Meugang menjadi khas karena kekhususannya, special menyambut ramadhan atau hari raya, selain momentum ini, meski pasar masih ada, namun keriuhannya tak begitu kentara, lapak pun tak berapa banyak. Maka, Pasar Meugang menjadi sebuah daya tarik yang tak biasa.

Meugang 01 Meugang 02 Meugang 03 Meugang 04 Meugang 05 Meugang 06 Meugang 07

 


7 comments

  1. Like this… Nek di Semarang ada juga Megengan, tapi bedo artine Sam walau sama dilakukan menjelang bulan Ramadhan. Titip Kopi Aceh Ule Kareeng atau Gayo yg masih biji mentah donk kalo mudik lagi hehehehe…. Suwun.

  2. Pingback: Daftar Peserta Banda Aceh Blog Competition 2014 | Tourism Banda Aceh

  3. Pingback: Daftar Peserta Banda Aceh Blog Competition | Tourism Banda Aceh

  4. Pingback: aneh2saja

  5. Undangan Menjadi Peserta Lomba Review Website berhadiah 30 Juta.

    Selamat Siang, setelah kami memperhatikan kualitas tulisan di Blog ini.
    Kami akan senang sekali, jika Blog ini berkenan mengikuti Lomba review
    Websitedari babastudio.

    Untuk Lebih jelas dan detail mohon kunjungi http://www.babastudio.com/review2014

    Salam
    Baba Studio


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s