Pecahkan Rekornya, Pangan Lokal menjadi Famous

Pangan merupakan kebutuhan yang sangat mendasar bagi kehidupan semua orang. Kebutuhannya semakin meningkat seiring bertambahnya laju penduduk. Ketahanan pangan pun teruji dengan kondisi seperti itu. Kurangnya produksi dan bertambah nya penduduk (konsumen) menjadi masalah utama terhadap ketahanan pangan. Ketika pangan (lokal) tak lagi mencukupi kebutuhan penduduk yang semakin bertambah, maka upaya-upaya impor pangan pun dilakukan oleh pemerintah untuk mencukupi nya. Padahal, Indonesia adalah negara yang sangat kaya dengan berbagai hasil bumi yang bisa di olah menjadi pangan yang akan cukup mensejahterakan seluruh rakyat.

Dengarlah syair dari Koesplus dengan judul Kolam Susu ini :
Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jalan cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupmu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkah kayu dan batu jadi tanaman

Betapa optimisnya mereka akan gemah ripah loh jinawi nya nusantara, namun pangan lokal tetap tak menjadi lebih terkenal dan menarik daripada berbagai macam fastfood yang bergentayangan di Indonesia.

Maka, menarik melihat, ketika pada 15 – 19 Januari 2014 lalu, di Malang di adakan acara Parade Pangan Nusantara. Panglima TNI, Menteri Pertanian, dan Gubernur Jawa Timur ikut menghadiri acara yang digelar di Lapangan Rampal, Malang – Jawa Timur. Republik Telo sebagai EO bekerja sama dengan 13 Kodam se-indonesia ikut ambil bagian, tentu ikut serta juga 33 Dinas Pertanian dari seluruh Nusantara. Inilah kebangkitan Pangan Lokal.

Image

Tari Nusantara – Parade Pangan dibuka dengan pementasan tari daerah.

Image

Pangan Lokal – Pementasan pada saat pembukaan Parade Pangan Nusantara dengan muatan pangan lokal

Pada parade ini, setelah dibuka dengan tari-tarian yang mengusung kekayaan budaya dan pangan lokal, acara fantastis adalah Pemecahan rekor MURI dengan pembuatan Tempe Raksasa, ukuran 6×9 m. Sebuah rekor yang luar biasa dan pertama di Indonesia. Siapa yang tak pernah mencicip Tempe sebagai pangan lokal. Bahkan orang luar negeri pun kerap ingin merasakan nikamtnya tempe.

Image

Tempe Raksasa – Persiapan pembuatan tempe raksasa

Image

Ribuan Tempe – Ribuan tempe di potong untuk siap digoreng

TaK hanya pembuatan Tempe Raksasa saja, setelah itu tempe pun di potong dan digoreng massal oleh ratusan TNI. 69.000 tempe pun kemudian dibagi gratis kepada warga malang yang hadir. Ludes dalam 1 jam.

Image

Juru Masak – Ratusan TNI menggoreng 69.000 tempe

Image

Ludes – Anak-anak yang antusias akan tempe

Tak cukup disitu, TNI pun keesokan harinya membagikan ratusan porsi makan siang, dengan meu-menu yang berasal dari pangan lokal, sebuah upaya yang sungguh luar biasa. Tidak hanya dalam kebersamaan TNI dan Rakyat, namun mengusung pangan Lokal sebagi objek utama itu yang lebih penting.

Image

Menu Pangan Lokal – Masyarakat antri untuk mendapatka beragam menu dengan bahan dasar pangan lokal

Image

Semua Kebagian – Antusiasme warga Kota Malang saat pembagian menu makan siang yang disediakan gratis

Acara Parade Pangan Nasional yang mendapat tanggapan positif dari berbagai pihak pun di isi dengan lomba masak dan kreasi makanan pangan lokal dari seluruh propinsi yang hadir pada acara ini. Bisa dibayangkan, beragam makanan hadir dari seluruh nusantara, dan itu berasal dari bahan lokal. Sungguh kayanya Nusantara.

IMG_3109

Enak Gak Ya ? – Suasana penjurian lomba masak dan kreasi Pangan Lokal

IMG_3112

Dari Sulawesi Barat – Salah satu peserta lomba masak dan kreasi pangan lokal di para Pangan Nusantara

Acara Parade Pangan Nusantara ini menjadi sebuah cara yang sangat efektif untuk memperkenalkan dan melestarikan pangan lokal kepada masyarakat. Pangan lokal menjadi sosok yang tak minder lagi, dan masyarakat pun lebih mengenal dan meminatinya.

Pada tahun 2030 krisis pangan akan mengancam, bukan bagi Indonesia saja, melainkan seluruh penduduk dunia. Maka, upaya-upaya kreatif seperti ini perlu terus di langsungkan sehingga kelak keadilan pangan tercapai, dan pangan lokal menjadi raja di negaranya sendiri, sehingga kita tak lagi bergantung dari produk impor yang belum teruji kesehatan dan gizi nya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s