SiTedjo Ber-GangNam Style

image

Semalam, di Kampus UIN Maliki – Malang, saya berkesempatan menonton pertunjukan Budayawan – @sudjiwotedjo , dalam sebuah gelaran Budaya yg diadakan oleh mahasiswa di kampus tersebut. Meski tiket masuk relatif murah, (Mahasiswa 10ribu, Umum 20ribu), mendapatkan tiket gratis di acara yg menghadirkan Presiden Jancukers ini sungguh memberi kesenangan berarti. Presiden Jancukers emang kerap disematkan kepada SiTedjo (saya lebih senang memanggil nya begini), karena memang dia lah yg membawa kata-kata Jancuk ke ranah Socmed, TV, dan bahkan ke ranah kopidarat ketika dia show di berbagai kota, seperti yg saya saksikan malam tadi. Kata Jancuk sendiri memiliki varian tersendiri Cuuk, Diancuk, Diamput, Jancik, Jangkrik, dsb yg sebenarnya berasal dari kata Encuk (bhs Jawa), yg artinya Persetubuhan. Kata ini emang terkenal keras dalam hal umpatan, namun juga kerap diperdengarkan sebagai bahasa “keakraban”, slang, dan pergaulan di wilayah Jawa. Bahasa pergaulan ini lah yg mungkin ingin dibawa oleh SiTedjo. Hal ihwal Jancuk ini bisa lebih di telusuri di berbagai referensi.

Kembali ke acara malam itu, siTedjo tampil penuh enerjik meski usianya sudah kepala 5. Disela-sela musik yg dibawakan, dia menyelipkan “standing politic comedy”, melucukan politik, tentu dgn gayanya.

Meski apa yg diucapkan sebagai syair lagunya lebih banyak tak ku mengerti, namun iramanya enak didengar, dan ternyata emang begitu yg dia harapkan. Bagiku model alunan musiknya membawa bayangan pada sosok Rafly Kande, penyanyi populer asal daerahku Aceh.

IQ yg tinggi bagi siTedjo tampak ketika dia bisa menyambungkan kata-kata sehingga menjadi senjata untuk dia terus mendapat tepukan malam itu. Bahkan, dia pun sempat bergangnam style tentu dengan style ocehan gayanya, ya bergangnam style di atas kuda-kuda / kambing2 an kardus. Sungguh luar biasa.

Akhir pentas, siTedjo sempat marah besar ketika dia mendapati sejumlah penonton meninggalkan tempat acara disaat dia sedang menyanyi, bagi nya sungguh tak beradab orang-orang yg pergi disaat dia tengah berkonsentrasi. Dia tak butuh dihargai, tapi meninggalkam acara dgn cara begitu sungguh luka yang dalam.

Begitulah siTedjo, seniman budayawan yg mampu berbicara di skala sastra, politik, bahasa, dsb. Sukses dengan Jancuk mu !


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s