Aceh Nanggroe Kupi

Sejak saya kecil di Aceh, warung kopi seolah telah menjadi arena permainan saya di Aceh. Bahkan, ketika di SD pun sempat beberapa kali mengantarkan segelas kopi pancung kepada pelanggan di Warung Kopi yang ketika itu pernah di miliki oleh orang tua. Pengalaman yang tak terlupakan.

De Helsinki Cafe - Salah satu warung kopi di Kota Banda Aceh

Dan, kini, warung kopi semakin “mekar” di Aceh, di Kota Banda Aceh tepatnya. Jika beberapa tahun silam, warung kopi menempati 1 pintu ruko standar, kini bahkan lebih dahsyat lagi, ada warung kopi yang memiliki 3 s.d 4 pintu ruko sekaligus.

Jebb Kupi (Minum Kopi), menjadi ritual keseharian masyarakat Aceh, cukup Kopi saja yang disediakan di sebuah warung, ramai juga pelanggan nya, apalagi jika ditambahi dengan penganan lainnya khas Aceh seperti (timphan, srikaya, mie Aceh, Cane), membludaklah pelanggan.

Ngopi _ Sejumlah penikmat kopi di Kota Banda Aceh

Warung Kopi pun menjadi tempat pertemuan lintas generasi dan bahkan lintas bangsa ketika berkunjung ke Aceh. Warung Kopi pun menjadi ajang talkshow berbagai obrolan, dari yang ringan dan biasa terjadi sekelas pemadaman PLN sampai yang berat-berat seperti DUGAAN KORUPSI di mana-mana.

Tak ada Mall besar di Banda Aceh (yg kecil pun sebenarnya tak ada… hahaha). Bioskop pun hanya berupa pemutar VCD di rumah atau warung. Namun, warung kopi seolah mengobati semuanya.

Sehari tak duduk minimal di 2-3 warung kopi, anda belum ke Aceh. Sehari tak duduk minimal 5 jam di warung kopi, jangan-jangan anda masih di Medan.


2 comments


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s