Tak Ada Waktu

Seorang fotografer teman saya sangat anti untuk memotret aktifitas pengemis/peminta-minta, “Mereka lebih banyak pemalas!! Kalau saja tidak dahsyat bener momentnya, jangan harap shutter ini untuk nya” begitulah lebih kurang katanya ketika itu.
Di tahun 2005, ketika naik Bus Kota di Jakarta, sambil menikmati perjalanan penuh sesak, dan sedikit waspada dengan situasi kiri-kakan, selembar kertas himbauan dari LSM Sosial mampir ke tangan saya. Isinya, himbauan agar tidak memberikan uang kepada pengemis/peminta-minta, anak jalanan, dan pengamen. Karena, menurut LSM tadi, sudah ada APBN yang dianggarkan untuk “penguasa jalanan” tersebut.
Rumah singgah dan berbagai aktifitas yang lebih produktif sudah disediakan untuk mereka oleh negara sesuai undang-undang yang pasal ke berapa saya lupa. Asumsinya, penguasa jalanan atau anak jalanan akan lebih memilih untuk tetap mengemis karena penghasilan yang mereka dapatkan melebihi yang biasa diberikan oleh negara. Begitu kata selebaran tadi. Saya kira ada benarnya juga. Jika tak ada satupun yang memberikan “tips” kepada pengemis, tentulah mereka “akan kembali” ke negara.
Di tahun 2010, beberapa hari lalu, saya tengah makan siang di sebuah warung, ketika ibu-ibu paruh baya berdiri didepan warung dengan tengadah tangan, berharap seperti biasa yang punya warung yang akan keluar memberikan sedikit receh, sekitar 3 menit tanpa hasil yang kemudian dia beralih ke ruko sebelah.
Masih di tahun 2010, di malam yang temaram, di sebuah cafe yang cukup ramai dikunjungi oleh remaja-remaja kota Malang. Lirik lagu ST12 mengalun sedikit merdu dari pengamen tetap cafe tersebut, alunan yang membuat saya semakin bersemangat menyantap nasi goreng ikan asin kegemaran saya. Saya mintakan dia nyanyikan 2 lagu ST12 lainnya dan saya serahkan selembar ribuan padanya sebagai ucapan terimakasih, lagunya cukup layak untuk didengarkan. Harga kebutuhan semakin meninggi, pemberian Rp. 100 atau Rp. 500 dianggap sudah tak wajar dewasa ini.
Sempat terpikir, cafe yang semalam bisa dihadiri oleh ratusan orang ini sangat potensial baginya sebagai pengamen tetap. Ada 100 orang saja yang memberikan rata-rata Rp. 1000, sebulan dia bisa meraup Rp. 3.000.000. Jauh di atas UMR nya kota Malang. Lupakan rumah singgah, tetaplah jadi musisi jalanan!!
Seminggu yang lalu, tentu saja masih di 2010, seorang bapak lengkap dengan harmonika ciliknya dan wadah tampungan recehnya, berjalan diantara warga yang tengah bersenam pagi di lap Rampal Kota Malang. Alunan harmonika yang putus-putus bercampur dengan irama musik yang mengiringi senam pagi tersebut. Entahlah, apa “pesenam” itu terkecoh dengan alunan harmonikanya yang bentrok dengan irama senamnya, yang pasti si bapak tetap semangat menjajakan “jasanya”.
Entah apa pula yang terpikirkan oleh bapak itu sampai sempat-sempatnya menjajakan jasanya diantara orang yang tengah sibuk bersenam. Mungkin juga intruktur senam yang seksi yang tengah berlenggak-lenggok diatas sana sudah sempat dikunjungi sebelumnya. Sungguh sebuah “Marketing Strategic” yang membingungkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s