Penampungan 1964

Alkisah, suatu hari di tahun 1964, seseorang yang tidak dikenal datang menemui jawara silat Banyuwangi pada masa itu. Orang tersebut minta dimatikan / dibunuh oleh jawara silat tersebut. Tak ada orang yang tahu alasan yang tepat sehingga orang tersebut minta dibunuh oleh jawara tersebut. Namun, bukannya mengabulkan permintaan orang tak dikenal tersebut, Pak Pekih – begitu jawara silat pada zamannya dipanggil – malah menjamu orang tersebut untuk makan terlebih dahulu, dan memberikannya penginapan dirumahnya.

Waktu berganti tahun, akhirnya orang tersebut sempat hijrah (transmigrasi) ke daerah Sumatra setelah dinyatakan “sehat”. Tahun kembali berganti, seolah permintaan ditahun 1964 itu menjadi isyarat pada suatu waktu. Diketahui kemudian, orang tak dikenal ini menjadi begal/preman yang ditakuti didaerah barunya itu. Dan, nasibnya pun berakhir di penghakiman massal hingga tewas oleh warga di tempat barunya sana.

Pak Pekih

Kembali ke Pak Pekih, sejak “keberhasilannya” menangani orang tersebut, mulailah berdatangan orang-orang yang ingin mengobati sanak keluarga mereka ke rumah beliau. Banyak alasan sampai orang-orang silih berganti mendatangi Pak Pekih. Stress akibat gagal kawin, ditinggal suami/istri, masalah biologis, dan juga akibat termarginalkan oleh lingkungan disekitar.

Beruntung bagi saya, pada 18 Desember 2009 yang lalu, berkesempatan berkunjung ke penampungan yang telah menangani sekitar 1000 orang yang mengalami gangguan jiwa sejak 1964. Perjalanan saya dengan travel dari Malang menempuh waktu perjalanan sekitar 8 jam untuk sampai di koordinat 8°33’03.83″s dan 114°04’23.07″E. Terletak di Desa Tembukur, Pesanggaran, Sumbermulyo, Banyuwangi. Tempat ini sendiri masih 1 jam lagi perjalanan dengan kendaraan bermotor ke Kota Banyuwangi. Terletak di pinggiran sawah, dan berada sedikit di ketinggian, membuat tempat ini serasa cocok untuk kondisi rehabilitasi. Keramahan penduduk sekitar juga memberi arti sendiri bagi yang berkunjung.

Saat ini di penampungan, hanya terdapat 8 orang yang menjadi “pasien”. “Sebenarnya banyak yang terpaksa kita kembalikan ke keluarga mereka. Bukan kami tak ingin menampung mereka, tapi memang dananya sudah tidak sanggup untuk kami tanggung”, ujar Suharyanto, anak Pak Pekih yang kini menggantikan ayahnya yang sepuh. Dari 8 orang yang berada di penampungan ini sekarang, 4 orang senantiasa mendapatkan kiriman uang dari pihak keluarga mereka. Sedangkan 4 orang lagi yang memang sudah sangat lama di penampungan ini, menjadi tanggungan swadaya keluarga Pak Pekih dan bahkan sudah dianggap keluarga.

Tak ada anggaran khusus dari pemerintah daerah. Bahkan, ketika heboh-hebohnya BLT, keluarga yang sangat sederhana ini pun “diluputkan” dari daftar penerima bantuan. “Sebulan, untuk nasi nya saja, kami menghabiskan sekitar 1.5 kw beras”, ujar suharyanto lagi.

Aktifitas sehari-hari dari pasien di penampungan ini pun layaknya orang-orang kebanyakan. Aktifitas mereka pun di optimalkan sehingga mampu melupakan mereka dari kegetiran masa lalu yang membawa mereka ke penampungan ini. Berladang, merawat ternak, dan mencari rumput di hutan menjadi rutinitas mereka. Tak ada kesan angker yang terlihat di wajah-wajah mereka. Hanya ada kegetiran, perlawanan akan kondisi, dan nestapa yang mungkin mereka rasakan.

Penanganan khusus yang tetap dengan suasana kekeluargaan yang diberikan oleh keluarga Pak Pekih seolah mampu memberikan semangat untuk terus hidup bagi semua pasien. Meski dengan dana yang sangat terbatas, komitmen Pak Pekih dan keluarga untuk tetap merawat pasien demi sebuah nilai kemanusian sungguh membuat kita seua terenyuh. “Makannya Kurang Sayur……” kata Marni, salah satu pasien yang sengaja namanya diganti agar dia melupakan masa lalunya.

*Penampungan 1964 hanya nama yang penulis berikan merujuk sejarah tempat ini. Tidak ada nama khusus untuk nama tempat ini. Foto lainnya bisa di lihat di GambaGalakGalak


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s