Ludruk : Mengasah Bakat dengan Hikayat Keseharian

Seni Panggung

Seni Panggung

Malam semakin temaram dengan dinginnya yang menerpa di Kota Malang – Jawa Timur pada Jumat (17/04) yang lalu. Jalanan kota Malang pun lumayan sepi, mungkin akibat dingin yang menerpa, orang-orang pun jadi malas untuk berlalu-lalang.

Namun, tak begitu dengan orang-orang yang sedang berada di Taman Sasana Budaya (Taman Budaya) Kota Malang. Di gedung bernuansa kerajaan yang berada di Jalan Soekarno-Hatta Kota Malang orang-orang mulai berdatangan. Beberapa hari sebelumnya, ketika sempat melewati gedung ini, memang sudah terpampang papan promo, “Pagelaran Ludruk, Jumat Malam….bla..bla…bla…”.

Dan, tempat ini juga yang menjadi tujuanku malam ini, tepat ketika pementasan Ludruk akan dimainkan. Suara alunan music yang berirama dari gamelan yang dipukul dengan nada-nada tertent mulai terdengar seketika mulai masuk ke areal gedung yang sering dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan seni ini. Didalam, tampak sekitar ratusan orang sudah duduk dengan tenangnya menunggu pementasan.

Malam itu, seperti tertulis diatas, akan diadakan pementasan Ludruk dengan lakon “Sekolahku ndek ndhi ?” (sekolahku dimana ? – pen). Pementasan kali ini dilaksanakan oleh pelajar-pelajar yang berasal dari SMU Neg 1 Pagak, salah satu wilayah di Malang Selatan. Dan, menonton ludruk secara langsung, merupakan pengalaman baru bagiku.

Ludruk adalah kesenian drama tradisional dari Jawa Timur. Ludruk merupakan suatu drama tradisional yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian yang di gelarkan disebuah panggung dengan mengambil cerita tentang kehidupan rakyat sehari-hari, cerita perjuangan dan lain sebagainya yang diselingi dengan lawakan dan diiringi dengan gamelan sebagai musik.

Dialog/monolog dalam ludruk bersifat menghibur dan membuat penontonnya tertawa, menggunakan bahasa khas Surabaya, meski terkadang ada bintang tamu dari daerah lain seperti Jombang, Malang, Madura, Madiun dengan logat yang berbeda. Bahasa lugas yang digunakan pada ludruk, membuat dia mudah diserap oleh kalangan non intelek (tukang becak, peronda, sopir angkotan, etc).

Ludruk berbeda dengan ketoprak dari Jawa Tengah. Cerita ketoprak sering diambil dari kisah zaman dulu (sejarah maupun dongeng), dan bersifat menyampaikan pesan tertentu. Sementara ludruk menceritakan cerita hidup sehari-hari (biasanya) kalangan wong cilik.

Penampilan pertama sebagai pembuka diawali oleh sebuah tarian yang berasal dari Betawi, yang kemudian dilanjutkan oleh sebuah tarian dari Madura. Sebuah bentuk kolaborasi yang cukup menarik, seni tari berpadu dengan seni drama. Sebelum pementasan lakon ludruk benar-benar di mulai, tampil lah seorang tokoh yang memerankan “Pak Sakera”, seorang jagoan Madura. Secara monolog, Pak Sakera menampilkan kepiawaiannya dalam mengolah kata, semacam mukaddimah sebagai prolog pementasan.

Lakon utama pun kemudian dimainkan, Ludruk. Pada penampilan kali ini, banyak hikayat keseharian yang dibawakan oleh salah sat grup kesenian dari sekolah tersebut. Dari persiapan mereka untuk UNAS, peringatan Kartini, sampai kritik-kritik akan mutu pendidikan di Indonesia.

Bakat Akting

Bakat Akting

Hikayat keseharian yang mudah dicerna bagi siapa saja yang menjadi penontonnya, semakin menarik ketika terpadu dengan bakat-bakat akting mereka yang cukup baik.

Penampilan mereka yang cukup baik, mampu membawa penonton terhanyut dalam cerita yang mereka mainkan. Kelakar dan humor yang ditampilkan baik melali kata-kata dan gerak tubuh menjadi nilai tambah tersendiri dalam penampilan mereka.

Dan, pada akhirnya, penampilan-penampilan seni budaya tradisional seperti ini tentu saja sebuah bentuk pelestarian seni budaya yang saat ini semakin tenggelam oleh modernisasi dunia IT. Penampilan/pegelaran yang rutin dilaksanakan di Taman Budaya ini juga diharapkan sebagai sebuah bentuk apresiasi yang mampu memberikan khazanah seni tradisional bagi kalangan muda saat ini.

Foto-foto liputan lainnya dapat dilihat di GambaGalakGalak


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s