PENGALAMAN MENJEJAKKAN KAKI DI KLENTENG ENG AN KIONG MALANG

Gong Xi Fa Cai

Gong Xi Fa Cai

Hari ini, Senin, tanggal 26 Januari 2009 yang merupakan dimulainya tahun baru dalam penanggalan Cina. Masuknya hari baru di tahun yang ke 2560 ini juga sering disebut orang dengan IMLEK dan ucapan yang terkenal untuk memberi selamat kepada umat Tionghoa adalah Gong Xi Fa Cai.

Mengenai sejarah dan tata aturan peringatan IMLEK tidak saya ceritakan disini. Catatan terkait dengan IMLEK secara historis dapat di baca disini dan disana.

Yang ingin saya ceritakan adalah pengalaman pertama saya meliput kemerahan dan kemeriahan peringatan imlek ini di Klenteng Eng An Kiong Kota Malang. Pengalaman yang memberi warna tersendiri dan mungkin tak akan saya lupakan selamanya. Inilah kali pertama saya menjejakkan kaki di sebuah tempat ibadah umat yang menganut ajaran jauh dari yang saya anut.

H – 1 imlek

Dua hari berturut-turut kerjaan di kantor libur. Minggu di akhir pekan, dan tambahan satu hari di Senin yang merupakan peringatan IMLEK yang ketika GusDur menjadi Presiden menjadi libur nasional. Wet-wet (jalan-jalan) untuk sedikit refreshing dari kepenatan kerja harus dilakukan nih, pikir saya. Ingin sebenarnya menikmati alam pegunungan seperti Bromo atau pun ke daerah pantai seperti Sendang Biru atau Bale Kambang.

Namun, karena cuaca yang tidak mendukung (hujan – mendung – angin – gelombang) wisata alam yang biasanya sering saya jalani harus tertunda.

Minggu pagi, saya telah bersiap, tujuan utama sebenarnya adalah Malang Olympic Garden, mal terbesar di Malang. Disini kantor sedang mengikuti Pameran Perumahan terbesar di awal tahun. Beberapa photo untuk laporan di kantor harus saya ambil. Hanya butuh setengah jam untuk urusan ini. Namun, mal baru buka jam 10-an. Akhirnya tujuan pun beralih untuk sementara.

Saya ingat, besok Hari Raya Imlek yang biasanya semarak. Akhirnya saya pun berangkat menuju Klenteng Eng An Kiong yang menjadi pusat peribadatan warga Tionghoa beragama Konghucu. Mungkin saja sudah ada acara-acara sampingan yang mulai dilaksanakan yang bagus untuk di abadikan, batin saya.

Sampai di Klenteng yang berada di Jalan Gatot Subroto (seputaran Pasar Besar Malang), keadaan sepi, bau dupa tidak begitu menyengat, dan hanya ada satu-dua orang yang melaksanakan ibadahnya. Pada satpam yang bertugas, saya izin untuk mengambil foto, dan diluar dugaan saya, satpam Klenteng memberikan izin sangat leluasa untuk mengambil gambar, tidak hanya  dari luar namun juga dari dalam.

Klenteng En An Kiong Kota Malang

Klenteng Eng An Kiong Kota Malang

 Hal yang tidak pernah terbayangkan sehingga tidak saya sia-siakan. Inilah pengalaman pertama saya menjejakkan kaki di rumah ibadah umat agama lain dan saya bebas mengambil gambar di dalamnya. Beberapa foto saya ambil hingga sekitar 1 jam kemudian saya pamit.

“Mas, kembali besok saja, besok pasti ramai dari pagi Mas” kata satpam melepas saya.

GONG XI FA CAI

Senin pagi, jam 9, saya sudah berada lagi di Klenteng Eng An Kiong Kota Malang, apalagi kalau bukan untuk meliput lanjutan perayaan IMLEK 2560. Hari ini, suasananya jauh berbeda, ribuan orang telah memenuhi lapangan luar Klenteng, kebanyakan masyarakat umum yang ingin melihat atraksi Barongsai. Di dalam Klenteng ratusan warga Tionghoa sudah mulai melakukan ibadahnya, bau dupa pun sangat menyengat.

Ribuan orang hadir untuk perayaan Tahun Baru Imlek

Ribuan orang hadir untuk perayaan Tahun Baru Imlek

Atraksi Barongsai yang berlangsung di lapangan Klenteng tidak saya liput, selain cuaca panas, penampilan Barongsai pun sudah sering kali saya saksikan.

Fokus saya adalah umat yang berdoa, bersembahyang, dan beribadah di dalam Klenteng, serta pertemuan sesama warga Tionghoa dengan khas mengepalkan kedua tangan di dada sambil sedikit membungkuk dan menyapa dengan Gong Xi Fa Cai.

Tidak jauh berbeda dengan yang kemarin, kekaguman saya akan suasana di Klenteng ini pun membuncah. Bagaimana tidak, sambil mereka beribadah (salah satu nya dengan memegang dan mengangkat dupa terbakar ke atas), kita bebas lalu lalang untuk mengambil foto. Bahkan, sampai di ruang utama yang didalamnya terdapat patung Dewi Kwan In yang begitu mereka hormati, saya pun bebas mengambil gambar.

Ibadah di Depan Dewi Kwan In

Ibadah di Depan Dewi Kwan In

Sungguh, di tengah interior yang dominan merah tidak tampak kesan marah dari umat dan pengurus Klenteng yang sedang beribadah, malah keramahan dan kemeriahan yang mereka berikan. Kita tersenyum mereka membalas dengan senyum yang lebih dalam. Salut untuk kebesaran hati mereka dengan kondisi mereka yang minoritas di negeri ini.

Asap dupa dan lilin yang terbakar telah memenuhi Klenteng, membuat mata semakin pedih, namun momen-momen yang indah dan menarik mengalahkannya. Sekitar 3 jam saya meliput acara ini. Sebuah pengalaman yang sangat berharga baik dari segi hobi fotografi yang sedang saya tekuni, maupun wacana baru akan hubungan antar umat dalam sebuah pergaulan.

Saya tidak pernah membayangkan, 17 tahun pernah hidup di Aceh yang begitu indah hubungan antar umat beragamanya, tidak pernah sekali pun saya masuk ke Klenteng di Kota Banda Aceh yang berada di Peunayong (Tepekong), padahal hampir setiap hari saya melewatinya. Dan, kesempatan itu ternyata saya dapatkan sekarang ini, di Kota Malang.

Beberapa foto lainnya dapat disimak di HabaGalakGalak

::: thanks untuk Balloew atas peminjaman kameranya.

 

 


4 comments

  1. Kalo melihat di TV, saya sangat ingin menyaksikan atraksi barongsai secara langsung.
    Wah foto-fotonya sangat keren-keren.
    Geleng-geleng kepala

  2. @Ozan : Iya, Barongsai memang sebuah atraksi yang sangat menarik, hari ini di Malang, setidaknya ada tiga tempat yang menggelar acara Barongsai secara besar-besaran, saya hanya meliput yang ini.. Gong Xi..Gong Xi… ka lagee jet lee ngen jackie chan tanyoe euh,,….🙂

  3. Setelah baca “link” yang Iqbal berikan, ternyata tahun baru Cina ini ada hubungannya dengan agama Konghochu juga. Yang aku tahu selama ini hanyalah terkait dengan adat-istiadat Cina juga. Bukan apa sih. Sekarang ini aku tinggal di Penang yang mayoritasnya adalah suku Cina. Wong, gubernurnya juga orang Cina. Libur sekolah di Penang nggak tanggung-tanggung, 1 minggu, dimulai hari Senin sampai hari Jum’at. Bahkan anak-anakku yang sekolah di international school, dipersiapkan untuk merayakan acara tahun baru Cina di sekolah. Sampai anakku yang paling kecil pun sibuk mengucapkan kalimat Gong Xi Fa Chai. Bahkan anak yang nomor satu lagi sibuk belajar lagu tahun Cina untuk pertunjukan di sekolah nanti.

    Aku nggak tahu apakah sekedar merayakan tahun baru Cina disekolah tanpa ada ibadah agama, dibolehkan atau tidak. Tapi nampaknya aku cenderung untuk tidak membolehkan anak-anakku, ikut kegiatan tersebut. Bukan tidak toleransi. Tapi kalau sudah menyangkut masalah aqidah, kita harus hati-hati.

    Kalau sekedar melihat upacara keagamaan mereka tidak ada masalah, ada pengetahuan yang didapat juga seperti pengalaman Iqbal.

    Terima kasih Iqbal atas artikelnya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s