Tukang Las bukan Tukang Ngeles

Tekun - dengan tabung dan becak dayungnya melakukan pekerjaan pengelasan

Tekun - dengan tabung dan becak dayungnya melakukan pekerjaan pengelasan

Sering kali saya bertemu orang-orang dengan bermacam profesi dan saya salut dengan kegigihan dan kebertahanan mereka dengan profesi yang (maaf) bagi kebanyakan orang mungkin tidak akan mampu untuk  menjalaninya. Namun, orang-orang dengan profesi tersebut memiliki sifat ke-sederhana-an, rendah hati, atau keramahan yang lebih baik dari orang-orang lainnya yang mungkin memiliki pekerjaan yang mentereng. Aahhh… inilah salah satu realita hidup…ada sebuah perjuangan, kejujuran, dan kegigihan dari berbagai macam orang dengan berbagai profesi yang berbeda yang sejatinya menuntut semua orang menghargai dan menghormati siapa saja yang mereka temui.

Salah satunya dari mereka adalah Tukang Las Keliling.

Bener…ini bener-bener tukang Las, bukan “tukang ngeles” yang memang banyak berasal dari berbagai macam profesi apapun lainnya. Semacam tersangka korupsi yang tiba-tiba ngeles sakit ketika mau diperiksa, atau artis-artis yang ngeles dengan status pernikahannya, atau berbagai profesi lainnya yang mereka sangat pinter ngeles sesuai kadar ke-profesian-nya.

Ini juga bener-bener TUKANG LAS (menyambungkan besi), bukan pula para orang tua yang memanggil pengajar untuk pelajaran tambahan bagi anak-anaknya, bukan nge-Les pelajaran..tapi ini memang TUKANG LAS KELILING.

Sering saya melihat tukang las dengan becak didayung dan tabung gas besar keliling mengelilingi komplek-komplek perumahan di Malang, dan sesering itu juga saya bertanya dalam hati “Apa ada yang membutuhkan jasa mereka? Bagaimana mereka mampu bertahan hidup hanya dengan mengandalkan tabung untuk melakukan pengelasan ? berapa tarif sekali mengelas sehingga mereka mampu dan mau tetap dengan profesinya tersebut ?”, ahh…terlalu banyak pertanyaan yang entah kapan dapat terjawab … dan satu lagi,” jumlah mereka yang berprofesi seperti ini juga tidak sedikit, nah persaingannya bagaimana tuh ??”

Sampai suatu hari, beberapa minggu yang lalu, akhirnya saya benar-benar berinteraksi dengan salah satu dari mereka. Ada pagar dikantor yang tiangnya sudah miring bertanda akan patah. Tiang yang terbuat dari besi ini memang sudah benar-benar perlu di las pikir saya, keputusan ini saya ambil karena sudah sekitar beberapa minggu juga miring nya tiang tetap “dipertahankan”.

Menggunakan Tukang Las Keliling adalah solusi terbaik untuk melakukan perbaikan pagar ini, pikir saya. Tapi, dimana mencari salah satu dari mereka ?, bukankah mereka sentiasa berkeliling ? dan kalaupun ada yang mangkal pastinya jauh lah dari lokasi yang saya butuhkan untuk pengelasan. Akhirnya, nekat juga berkeliling jalanan untuk mencari mereka, dan asumsi saya terjawab, sejam berkeliling dan saya tidak menemukan mereka sama sekali, satu tukang las pun tidak!!!.

Tiba tengah hari, dengan tak disangka-sangka lewatlah salah satu tukang las. Alhamdulillah pikir saya….dan langsung lah negosiasi terjadi :

“Ini pak, butuh las pagar ini, berapa ?”tanya saya,

“Lima puluh ribu (Rp. 50.000) Mas”, katanya kemudian setelah melihat kondisi pagar yang semakin miring tersebut.

“Mahal banget Pak, tiga puluh aja gimana, kan dikit aja nih ?”, tawar saya selayaknya ibu-ibu dengan perhiasan mengkilap yang tetap saja menawar harga sayuran di pasar-pasar tradisional.

“Duh, semuanya naik sekarang Mas, sudahlah 40 ribu aja ya”, seolah ingin mempercepat negosiasi harga.

“Oke lah!” kata saya kemudian.

Dan, sejurus kemudian, mulailah dia mengeluarkan peralatanya. Palu yang diperlukan untuk meluruskan besi yang susah bengkok, dan peralatan lainnya yang semakin menarik minat saya untuk memperhatikannya. Beberapa saat kemudian, ketika pengelasan belum berjalan, dan dia mulai sibuk membongkar peralatannya, “ada masalah nih” pikir saya dalam hati. Dan ternyata memang ada masalah.

“Mas, saya pinjam 20 ribu dulu boleh, karbitnya habis nih”, katanya.

“Boleh..”, diapun kemudian meninggalkan peralatannya di hadapan saya dan berjalan mencari took bangunan untuk mencari karbit. Karbit merupakan bahan dasar yang digunakan untuk pekerjaan pengelasan, secara sederhana dapat dikatakan, tanpa karbit api yang digunakan untuk pengelasan tidak akan menyala.

Kemudian, setelah karbit tersedia, dengan lancarlah proses pengelasan terjadi, dan tidak sampai 20 menit, pagar yang tadinya miring kembali tegak. Dan, dia pun kembali berkeliling menuju perjalanan lainnya setalh menerima sisa 20ribu rupiah lagi dari saya.

Sepeninggalnya, tanpa saya sadari, beberapa pertanyaan ketika melihat orang-orang dengan “profesi khusus” ini pun mulai terjawab.

“JANGAN NGELES DEH KALAU TIDAK MAU DILAS !!!”


6 comments

  1. Ih mantap nyan, palagi awak jawa disini cukup giat bak cari duit.

    Walaupun banyak juga yang terlantar tidak ada tempat tinggal, tp yang gigih buat “ngeles” seperti di atas jam2 3 pagi mereka sudah bergerak mengais rezeki di berbagai profesi yang ada.

  2. hidup yang penuh dengan makna,,,seorang tukang las yang bs membri manfaat bagi dia sendri dan orang lain,,,!!!

    bgitulah hidup yang bermakna,,,dy bs hdup dengan memberikan manfaat bagi orang lain,,,hahahahhaha

  3. @ mudabentara

    nyan rudal peu AC bang ?

    Waduh! Pertanyaannya….😆😆

    Ya, ya… saya sendiri masih suka ngeles kadang-kadang. Syukurlah, belum pernah berurusan dgn tukang las. Bisa hangus bibir saya:mrgreen:


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s