BENARKAH ACEH DALAM SYARIAT ISLAM ?

Berbicara mengenai Nanggroe Aceh Darussalam, seakan tidak pernah habis-habisnya, sejak 3 dasawarsa lalu Aceh seakan tidak pernah lepas dari berbagai ketidakadilan dan kezaliman rezim yang memerintah di NKRI. Baik itu di era Karno dengan Orde Lamanya, era Harto dengan Orde Barunya, era Habibie dengan Orde Transisinya, era Gusdur dengan Orde reformasi yang di lanjuti oleh Mega. And Now di Era Susilo dengan Kabinet Indonesia Bersatu nya sepertinya siih Aceh masih dalam mendung kelabu.

Tapi itulah Aceh, daerah Modal yang menjadi salah satu daerah untuk “menghidupi Indonesia”, dan biarlah dimensi waktu dan ruang yang menentukan kemana arah Aceh akan bergerak di masa depannya. Ini bukan sebuah sikap apatis bagi sekian banyak solusi yang ditawarkan oleh banyak “pejabat dan penjahat” baik di Aceh maupun di Jakarta. Inilah sikap optimis yang logis.

Hanya satu yang bisa kita cermati di Aceh kini sesuai dengan UU no. 18 tahun 2001. UU pemberlakuan syariat islam ini lebih dikenal dengan UU Otonomi Khusus sudah sekitar beberapa tahun lalu ditetapkan di Aceh, dan bagaimana aplikasinya di lapangan, sepertinya sih jauh panggang dari api, dan ini bisa dilihat dari laporan akhir tahun pemerintah yang mengatakan hasil dari implementasi UU ini selalu berada dibawah target.

Berbicara masalah syariat juga secara otomatis berbicara mengenai bagaimana kehidupan masyarakat yang berkesesuaian dengan pola-pola hidup ajaran Islam yang berdasarkan Al-Quran dan Hadist. Dan memang Islam adalah yang mayoritas – kalau tidak ingin mengatakan semua – di NAD, tapi apakah ajaran-ajaran Islam benar-benar merasuki jiwa seluruh bangsa Aceh kini, sekali lagi sepertinya jauh panggang dari api.

Kita lihat sekarang, dimana Aceh yang dikenal sebagai Nanggroe Serambi Mekkah, menjadi Provinsi paling Korup di NKRI, tidak tanggung-tanggung, yang menjadi sorotan berbagai tindak pidana korupsi di NAD adalah pejabat-pejabat daerah tak terkecuali Gubernur Abdullah Puteh yang seharusnya menjadi icon utama penegakan syariat Islam di NAD. Ketua Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK) Taufiequrrachman Ruki mengatakan pihaknya menemukan indikasi korupsi senilai Rp 2,7 triliun di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Korupsi sebesar itu diduga berasal dari 68 proyek yang dilakukan berbagai instansi dari tingkat dinas kabupaten hingga departemen pusat, termasuk dilakukan jajaran TNI dan Polri di Aceh. Apakah ini syariat islam ?

Bagaiman kondisi anak muda Aceh sekarang? benar-benar dalam kondisi euforia yang berlebihan, seiring makin kondusifnya keamanan terutama di pusat kota Banda Aceh, semakin “aman” pula lah mereka melakukan tindakan-tindakan yang memalukan.

Semua juga paham bagaimana lokasi di seputaran Banda Aceh, seperti Pantai Lampuuk, Blang Padang, Cafe Sepanjang DAS Lamnyong, Pinggiran Alue Naga, dan berbagai tempat lainnya yang semakin menjamur menjadi tempat bagi kawula muda Aceh untuk menjadikannya sebagai tempat maksiat, tempat perzinahan. Astaghfirullah…ini bukan tanpa bukti, Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Nasrullah Jakfar mengungkapkan, sejak tahun 2000-2002, remaja putri yang berkonsultasi ke dokter praktek karena hamil di luar nikah menunjukkan grafik meningkat

Pada tahun 2000, tercatat 71 kasus gadis hamil sebelum nikah atau sudah mengadakan hubungan layaknya suami istri. Angka itu meningkat jadi 129 kasus pada tahun 2001. Dan melonjak lagi menjadi 226 kasus pada tahun 2002. “Saya perkirakan setiap tahun bisa meningkat lagi. Ini ibarat gunung es, yang tidak melapor lebih banyak lagi,” jelasnya mengutip data LSM Centra Muda Putroe Phang Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (CMPP-PKBI).

Nasrullah menduga perilaku seks di luar nikah itu terkait dengan budaya permisif di masyarakat semakin permisif. Tayangan televisi yang mengairahkan dan semakin gampangnya memperoleh CD porno semakin menyuburkan seks di luar nikah. Dan yang mengagetkan, imbuh Nasrullah masih mengutip data CMPP-PKBI, gadis yang duluan hamil sebelum ke penghulu, kebanyakan berasal dari keluarga menengah ke atas. “Benteng keimanan adalah kunci untuk mempertahankan diri dari segala bisikan iblis,” ingatnya. Nah, benarkah Aceh dalam syariat Islam….?

Anda kenal warung kopi Ce’ UK (baca : cek yuke), yang berada di depan agak kekiri dari Mesjid Raya Baiturrahman dan di pojok Jembatan Pante Pirak di Pusat kota Banda Aceh? Lihatlah, wareeh seakan tidak pernah sepi dari peminat, tidak hanya mayoritas anak muda aceh yang cangkruan disana, orang tua pun ada, seiring matahari bersiap menuju tempat peraduannya, wareeh semakin ramai dikunjungi, dan apa yang terjadi ketika Adzan Maghrib berkumandang dari Mesjid Raya yang tak berapa jauh dari tempat tersebut, mereka tetap saja melanjutkan aktifitasnya ditempat yang terkenal dengan kopinya itu, seakan telinga mereka tertutup dari panggilan Allah SWT untuk mendirikan shalat. Inikah Syariat Islam di Aceh….?

Ada lagi hal yang menggambarkan Aceh kini dalam penerapan UU no 18 tahun 2004 tentang pemberlakuan syariat islam. Jilbab modis dan gaul yang digunakan oleh remaja putri Aceh tidak lebih sebagai suatu bentuk kemunafikan yang kerap ditunjukkan oleh artis-artis jakarta pada saat bulan ramadhan, so… tak salah jika ada yang mengungkapkan “ulèe tutöp, punggöng teupeuhah” terhadap pola pakaian tersebut. Syariat Islamkah di Aceh…?

Yang diatas hanyalah yang tampak secara kasat mata didepan kita, belum lagi peredaran narkotika dan pelacuran yang memang kurang diekspos dari berbagai media dikarenakan keamanan yang menyusahkan mereka meliput di NAD. Sehingga, masyarakat di luar Aceh sampai saat ini masih menganggap Aceh termasuk daerah yang islami yang minim kerawanan tindak kejahatannya, karena pedoman mereka adalah media massa baik elektronik maupun cetak. Lihatlah program-program semacam Buser, Patroli, Sergap betapa sedikitnya NAD terlihat didalamnya, paling juga aksi mafia ganja yang bermain di luar Aceh dan ini sudah biasa. So.. jangan salahkan masyarakat diluar Aceh yang tidak paham bagaimana Aceh kini, karena itulah yang mereka lihat.

Wahai aneuk nanggroe di rantau! saatnya kita bertanya apakah acara-acara seremonial yang sering kita lakukan semisal seminar, maulid nabi, dan halal bi halal yang menghabiskan dana tidak sedikit bisa membawa aceh kembali bermartabat? Tidak malukah anda ketika melakukan hal-hal yang tidak sesuai syariat sedangkan anda seorang muslim dan berasal dari Aceh? sudah saatnya kita merenung, bertanya pada diri kita sendiri, aksi nyata apa yang bisa kita berikan kepada Aceh. Mulailah dari sekarang, mulailah dari diri sendiri, dan mulailah dari yang kecil, sehingga nanti kita tanpa ragu-ragu akan menjawab : Ya, Aceh telah menerapkan syariat Islam sesuai Al-Quran dan Hadist. Allahu Akbar..!! wallahu ‘alam

[Tulisan ini pernah di muat di Bulettin IPPMA Malang, HAN Atjeh ed. 5, 15 Desember 2004]

:: tulisan ini sudah pernah di post di sinoe


3 comments


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s