ACEH : RENCONG di KANAN, GANJA di KIRI (dibalik juga gak apa-apa)

Kaos Rencong Ganja Aceh

Kaos Rencong Ganja Aceh

Terus terang saya kaget, ketika bertemu seseorang sesama Aceh dengan kaos ini. Apalagi di acara halal-bi-halal masyarakat Aceh yang di adakan di sebuah kota di Jawa Timur beberapa bulan yang lalu. Untungnya hanya daun ganja, rencong dan tulisan Atjeh yang ada, coba saja jika 2 hal didepan tadi diampingi oleh gambar kubah mesjid raya Baiturrahman, tentu akan lain lagi ceritanya.

Langsung ketika itu, saya minta ijin untuk mengabadikan kaos nyeleneh ini, kaos yang menyiratkan kecintaannya akan Ganja, Rencong, dan tentu saja Atjeh daerah kelahirannya.

RENCONG sana BENCONG sini….

Jika di Jawa ada keris, orang Sunda ada Kujang, dan Madura ada Clurit, tentu lah (siapa ?? dullah, emang nama ku abdullah..) sebagai simbol bahwa disetiap daerah di Indonesia pernah ada darah yang tertumpah, tentu saja jawabannya Rencong bagi Aceh. Ya, Rencong menjadi senjata tradisional di Aceh.

Rencong dulunya menjadi salah satu senjata yang di pakai oleh pejuang-pejuang Aceh untuk melawan kaphe-kaphe (red. kafir-kafir) Belanda ketika berperang. Rencong juga menjadi sebuah simbol heroiknya bangsa Aceh ketika itu.

Tekstur Rencong yang lurus tajam di ujung serta penempatan  Rencong di bagian depan setiap pakaian adat Aceh juga bisa  bisa ditafsirkan bahwa orang Aceh itu kalau ada sesuatu yang menurutnya kurang pas, selalu saja mengemukakannya langsung di depan, tanpa sungkan-sungkan selayaknya Wong Jowo yang meletakkan kerisnya di belakang baju dengan tekstur yang meliuk-liuk.

Perawatan Rencong juga tak memakan banyak sesajen layaknya keris, konon kata seorang Mbok (red. pembantu) yang sudah cukup tua di tempat tinggal saya di Malang sini, setiap tahun keris-keris harus dimandiken jika tidak keris bisa “menari-nari” sendiri didalam kotak penyimpanannya.

Namun, ketika Keris dan Clurit masih digunakan sesuai fungsinya (minimal untuk pemotong rumput), Rencong Aceh seolah menjadi sangat bencong. Bagaimana tidak, Rencong Aceh sekarang hanya menjadi hiasan bagi pengantin pria (Linto Baro) dengan pakaian adatnya, ataupun sudah terpigura dalam hiasan-hiasan dinding. Sehingga ada joke yang sangat ironi bagi orang-orang Aceh yang berbunyi “rencong kiri-kanan dompet bisa hilang”. Ataupun Rencong menjadi sangat bencong ketika dibandingkan dengan GLM, AK-47, atau M-16 yang sering menjadi “mainan nya orang-orang gunung” beberapa tahun lalu.

GANJA-I LAH DAKU….

Nah bagaimana dengan Ganja…

Ahh… siapa juga yang tak kenal ganja Aceh ?? semalam aja baru ditemukan 500 kg ganja di Tangerang, belum lagi yang berhasil di”aman”kan, yang diamankan ini biasanya kelipatan 2 atau 3 dari itu…(sstt… sambil liat kiri kanan)…

9 tahun yang lalu ketika pertama sekali merantau ke Jawa, ada 2 hal yang sangat menakjubkan bagi saya. Pertama, ketika di SD s.d SMAdi Aceh sana saya, slogan yang paling terkenal adalah “pergunakan bahasa Indonesia yang baik dan bener” namun sesampai di Jawa, semboyan itu menjadi “berbahasalah Jawa kalau tidak mau pusing sendiri”.

Begitu dahsyat orang Jawa dalam berbahasa pikir saya ketika itu. Di terminal, di angkot (angkutan kota), di mal, bahkan di kampus yang notabene-nya berbagai suku bangsa ada, bahasa Jawa is number One, betul-betul “welcome to the Jawa Country” pikir saya lagi ketika itu. Sangat jauh berbeda dengan orang-orang di Aceh yang merasa malu jika berbicara dalam bahasa Aceh. Mungkin juga ini faktor slogan itu yang telag dikumandangkan selama 32 tahun.

Yang kedua, takjub saya ketika apresiasi teman-teman non-Aceh akan ke-ganja-an Aceh (keganjaan….bahasa apa pula ini…). “Ganja tumbuh di pinggir jalan ??”, “Ganja jadi lalapan di Aceh ??”, “Ganja jadi bumbu masak di Aceh ??” ,…. malas menjawab dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah saya jumpai di Aceh itu, santai saya menjawab “Ganja bahkan menjadi sirih bagi kakek-nenek saya….” hehehehe….

Memang, tak ada yang memungkiri kemungkinan kualitas ganja Aceh menjadi no 1 di dunia. Bahkan, obrolan ringan bersama teman-teman menjawab kenapa di Aceh tidak ada pabrik rokok yang berdiri. Bisa jadi, jika ada pabrik rokok di Aceh dan ada yang iseng mencampur tembakaunya dengan barang harum haram ini, bisa gulung tikar semua pabrik rokok yang ada di Indonesia. Tinggal lah sejarah rokok cerdas 234 DjiSamSoe yang bangga dengan fatsal 5 nya itu.

Sedikit yang saya ketahui tentang perjalanan Ganja Aceh menjadi komoditi diluar Aceh, tidak ada petani ganja atau perawat tanaman ganja di bisnis ini, yang ada hanya lah penabur biji ganja di lahan-lahan pegunungan yang subur yang memungkinkan dia tumbuh sendiri.

Penabur biji ganja tidak lupa “menitip” satu biji ke pot yang menjadi pedoman dia selama berada di rumahnya. Selama tumbuh kembang biji ganja di pot yang juga menjadi patokan ganja di lahan, dia bebas menjadi profesi apapun yang dia inginkan. Teknik inilah yang sering terjadi, sehingga, ketika lahan ganja ratusan hektare di temukan, tak diketahui pemiliknya siapa, karena memang pemiliknya tengah santai dengan secangkir kopi jauh di kota sana.

Sampai saat ini, ganja tetap menjadi fenomena menarik di daerah yang katanya mulai bermaksiat bersyariat ini, ganja seolah menjadi lahan bisnis bagi siapa saja yang mau berbisnis dengan nya, tidak peduli apakah dia PNS, APARAT, PEJABAT, IBU RUMAH TANGGA, atau pun PEMUDA-PEMUDA Aceh yang menjadi korban konflik masa lalu.

Oh yaa….. satu lagi kabar yang saya pernah dengar, bagi bandar ganja Aceh, sangat dilarang mereka untuk mencicipi barang dagangannya sendiri, mereka punya komitmen untuk merusak orang lain tapi tidak untuk diri mereka sendiri. Ataupun, jawaban yang paling logis adalah : jika mereka mencicipi sendiri, bisa jadi itung-itungan kilo dan harganya bisa salah dikarenakan mereka telah fly duluan….

AYOO MENG-GANJA-L !!!!!


20 comments

  1. Hoho…Rencong kan lebih bernilai jual dibandingkan clurit dkk. Hehe…Ganja juga sama, harganya lebih mahal dibandingkan sugi bakong! kekekekekek…

    Ayoo…GANJ(Y)A-NG RENCONG!

  2. Menarik sekali Iqbal. Sampai ke Malaysia pun,orang Aceh mengkekspor ganja. Hingga sekarang ini ada sekitar 300 orang menuju tiang gantungan di Malaysia. Dua di antaranya sudah dieksekusi. Betul-betul tidak bisa dibanggakan :(

  3. Dulu, jaman kesultanan Aceh, ganja itu memang belum diharamkan setahu saya :?

    Malah, itu dana perang kemerdekaan di Aceh – setelah Batavia alias Jakarta kocar-kacir karena agresi militer Belanda – ada yang dari penjualan ganja.. Tapi cerita itu ditutup-tutupi kayanya :P

    Silakan cari di buku2 sejarah kontemporer :mrgreen:

  4. Hehehe, ada yang Bilang Rasta Mania bang…Rasta (Rasa Asli Tembakau Aceh).
    Kalo rencongnya, kalo ngga salah hijrah yang dipake di baju adat jarang digunakan untuk perang, karena bentuknya yang seperti itu..bentuknya seperti bismillah kan, kalo yang untuk perang ada rencong laen lagi bang..ntar ya hijrah cari referensinya…
    ‘STAY AWAY FROM DRUGS lah!

  5. saya lagi nyari souvenir khas aceh, untuk tamu-tamu kantor, kayak gantungan kunci gitulah, maunya gambar Baiturrahman, ada yang punya info? jangan rencong lagi lah, udah keseringan ngasinya.

  6. @desneldi : seperti nya agak sulit pak, lebih mudah nyari hiasan rencong atau gambar ganja deh kayknya di Aceh. Tapi, sepertinya lebih mudah nyari di Aceh seperti bapak deh dibandingkan saya yang di Jawa. Nanti, kalau ada info saya kabari…

  7. mhet..gmn kalo ganja dilegalkan aja di Aceh…kan banyak tuh lulusan2 sarjana fakultas pertanian…kita suruh aja mereka kelola trus dijadikan komoditi “naggroe” untuk di ekspor ke negara2 maju yang mana negara tersebut memiliki kapasitas untuk bertanggung jawab atas penggunaannya. Setau saya marijuana, Sp (Ganja) adalah bahan baku Anastasia yang sangat berguna dalam kedokteran…

  8. kalau pake rencong dikehidupan sehari-hari bisa di tangkap poke UU darurat. masih banyak kok yang pake Rencong cuma ngak nampak2in kayak wong jawa…
    ganja….dkshhdsfhkcsgigf!!!?
    _____kayak strategi lama tu :
    orang jawa kirim serdadu ke aceh untuk bunuh rakyat aceh,
    orang aceh kirim ganja tuk bunuh orang jawa…kali…
    he…he…
    jangan dimasukin dalam hati

  9. memang aceh banyak ganja tapi propinsi di sumatra sudah banyak yang ikutan seperti di bengkulu

  10. MERDEKA…..

    Salut buat Kamu….
    Aku salah satu orang indonesia yang cinta Nusantara tetap Utuh…
    Aku juga tidak suka dengan adanya suatu perbedaan suku diantara Bumi Nusantara ini.
    Tapi memang tidak bisa dipungkiri bahwa Nusantara bermacam-macam adat dan bahasa.Memang cara meratakan bahasa Kurang disadari sama para Maha pelajar indonesia. tapi I Love Atjeh…..LOVE & PEACE
    By the Way Canabis Sativa Tanah Rencong Memang Aduh HAi…tidak terkalahkan dengan negara manapun.

    Semoga kita semua dalam lindungan Alloh SWT

    Wassallam

    Harytiro

  11. Sebuah lirik lagu dari teman2 di Cirebon yang selalu mencintai Aceh dan Indonesia, check this:
    http://www.myspace.com/anotherprojectreggae/music/playlists

    N.A.D.I (Nangroe Atjeh Darussalam Indonesia)

    Tanah aceh, tanah ganja,
    dari dahulu sudah ada..

    Di ujung barat nusantara,
    pantaimu elok dan juga indah.
    Berhektar-hektar ladang ganja,
    negeri yang indah bagaikan surga.

    Inginkan damai dan ketenangan,
    tanpa perang dan kekacauan.
    Tak ada lagi penindasan,
    negeri yang indah yang terlupakan.

    Tanah aceh, tanah ganja,
    dari dahulu sudah ada..

    Kini semua tlah berubah,
    ketika datang sebuah bencana.
    Menghancurkan negeri yang indah,
    kini hilang tak bersisa.

    Tanah aceh, tanah ganja,
    dari dahulu sudah ada..

    Negeri yang indah bagaikan surga,
    negeri yang indah yang terlupakan..
    Negeri yang indah bagaikan surga,
    negeri yang indah yang terlupakan..

    Jayalah selalu Nangroe Atjeh Darussalam Indonesia!

    good post masbroow :)

  12. jaya lah aceh xu,,,,,
    daun khas tnah rencoh memag trkenal tp syng skian bnyak orang aceh tdak bisa memmafaat kan nya,,,,
    kebanyakan orang aceh hanya bisa merasakan ke dahsyatan dosis nya aja,padahal itu dpat merusak moral dan pikran mereka,,,

  13. aceh emang Negeri seribu cerita…
    juga seribu fakta yang dikemas mesra bagi mareka
    aceh negeri kaya
    ladang ganja berbicara…..
    andai saja aku masih hidup subur di tanah aceh tercinta
    akulah solusi yang akan menjawab tantangan bangsa
    aku akan bebaskan utang Indonesia
    sebagai mana masa dulu aku hadiahkan emas dan permata untuk indonsia
    monas dan taman mini menjadi saksi mata
    ganja dan aceh memang luar biasa…

    aceh negeri kaya
    ganja tanaman khas ujung sumatra


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s